Halaman

Kamis, 11 Juni 2015

Seputar Semai

Sedikit pagi ini saya ingin menulis, kali ini saya akan membahas mengenai cara semai dalam hidroponik.

Semai sendiri menurut saya adalah proses menanam awal dari benih/biji hingga menjadi bibit. Dalam pertanian konvensional atau yang menggunakan tanah biasanya digunakan campuran tanah, kompos, pupuk kandang bahkan ada juga yg dicampur sekam bakar. Apakah cara semai tersebut tidgunakan dalam teknik bertanam hidroponik??

Kebanyakan semai pada cara tanam hidroponik tidak menggunakan pupuk/nutrisi sama sekali hingga keluar daun semunya, setelah batang berdiri tegak dan daun telah terbuka sempurna baru diberikan air nutrisi dengan ppm rendah (bekisar 200-500 ppm). Setelah berdaun 4 langsung dipindah ke sistem hidroponik yang dipilih apakah itu wick, nft, dft dll.

Apakah itu bagus pada pertumbuhan awal bibit?

Untuk sekala hobi hal itu tidak masalah, karena tidak ada batas waktu dan acuan produk. Bagaimana skala produksi yang lebih besar?

Dari pengamatan saya di Fb terhadap beberapa orang yang sudah punya farm, teknik semai ternyata memiliki andil besar dalam panen di kemudian hari. Jika semaian tidak bagus (bentuk daun kecil, rebah, batang menguning, tegak tapi pendek) maka masa yang dibutuh untuk tumbuh sesuai keinginan akan lebih lama. Biasanya dalam farm terdapat beberapa bagian dalam produksinya, yaitu bagian semai, bagian peremajaan dan bagian pembesaran.

Pada awal semai yang harus dilakukan adalah pemilihan benih yang bagus, ada yang menyarankan untuk direndam dengan air biasa benih tersebut untuk mengetahui mana yang mengambang (dikatakan kosong, ada juga beberapa orang yang berpendapat, air memerlukan waktu untuk menembus kulit bagian luar) dan mana yang tenggelam (berisi dan dikatakan mudah pecah/berkecambah/sprout), ada juga yang menyarankan merendam dengan air hangat (suam-suam kuku) ditambah irisan bawang merah) lalu ditiriskan dan diletakkan di tisu setelah berkecambah baru dipindah ke rockwoll. Hal tersebut sah sah saja, tapi yang pasti dalam menyemai yang paling utama adalah mengenal karakteristik dari tanaman yang akan disemai, misal untuk sawi bisa dengan mudah sprout dalam media yang basah, sangat lembab atau kurang lembab, hal ini berbeda dengan benih selada, apabila terlaku basah maka benih akan busuk dan apabila kurang lembab maka benih tidak tumbuh.

Saya dan adik saya dalam praktek semai telah mencoba beberapa media dan teknik. Pada media busa (yang telah dipotong 2cm x2cm x2cm kita tidak bisa hanya membasahi sedikit, melainkan harus sedikit merendam busa tersebut agar menyimpan air. Kemudian baru dimasukkan benihnya dan ditutup, penutupan bagi saya berperan dalam menjaga sirkulasi air agar stabil, kalau dibuka bisa jadi air menguap dan busa gampang kering. Dengan media rockwoll bisa memotong rockwoll terlebih dahulu baru menempatkan benih pada Rw setelah itu bisa dibiarkan terbuka atau tertutup, kena bisa dibiarkan terbuka? Karena Rw bersifat menyimpan air dan tidak mudah melepaskan air. Media lain yang saya gunakan adalah sekam bakar yang telah dicampur dengan cocopeat (saran 2:1 atau 3:1) tempatkan campuran tersebut pada tray semai atau wadah basahi dengan menyiram air perlahan, bisa menggunakan penyemrot dengan daya semprot rendah, setelah basah coba miringkan ke salah satu sisi apakah ada air yg menggenang, jika ada buang sedikit air tersebut agar media tidak terlalu basah, setelah dirasa sekam cukup basah baru semai benih bisa acak atau dibuat petakan, tutup tipis dengan campuran tadi juga atau langsung tutup dengan plastik wadah tersebut dan jemur, agar kelembaban terjaga.

Semaian  kangkung dibusa, seudah masuk peremajaan dengan sistem rakit apung
semaian sawi  di Rw yang telah dipotong-potong diletakkan di tray semai
Semaian tomat di sekam bakar dan cocopet









Jangan lupa ketika sudah terlihat benihnya sprout langsung kenalkan pada udara terbuka dan cahaya matahari tidak langsung (agar media tidak cepat kering) jika cahaya matahari hanya datang dari satu sisi maka bibit akan miring kearah datangnya sinar matahari, jangab takut nanti bibit akan tumbuh miring, tinggal putar wadahnya kearah sebaliknya, nanti akan tegak kembali bibitnya. Dalam hal ini terkadang terdapat kendala dalam cuaca (mendung arau hujan) padahal bibit sangat memerlukan sinar matahari agar tidak terjadi etiolasi (batang menguning, tinggi, rebah, daun kecil) hal tersebut bisa diantisipasi dengan meletakkan semaian di bawah lampu Led grow untuk memanipulasi cahaya dan suhu juga harus diatur jangan sampai terlalu panas atau dingin.


benih cabe yang mulai masuk masa remaja,
ditempatkan dalam polibag kecil dengan media campuran sekambakar dan cocopeat,
terlihat pertumbuhannya yang baik

bibit selada di tempatkan di meja peremajaan dengan sistem nft,
nendapat hasil yang seragam.


Setelah semai harus dilakukan penyortiran kembali yaitu penyortiran bibit, kenapa hal itu dilakukan? Hal tersebut berguna untuk menghasilkan bibit yang seragam, penyortiran tersebut bisa dilakukan diawal setelah batang dan daun tegak atau setelah berdaun 4. Letakkan bibit yang telah disortir dalam tempat peremajaan, untuk yang menggunakan media busa dan Rw bisa menggunakan sistem nft/rakit apung dengan aerator, untuk media campuran sekam bakar dan cocopeat bisa diletakkan dinetpot dan diberi air tipis pada dasarnya atau disemprot air dengan sprayer. Air yang digunakan bisa menggunakan air nutrisi berppm rendah. Sebenarnya penggunaan air nutrisi dari awal semai tidak masalah bagi tanaman hanya bermasalah pada medianya, media akan cepat ditumbuhi alga dan bisa jadi alganya lebih cepat tumbuh dibanding dengan bibit itu sendiri, tapi selama bisa menjaga agar alga tidak menguasai nutrisi hal tersebut tidak masalah.

Waktu dari awal semai hingga berkecambah dan berdaun 4 setiap tanaman berbeda-beda, sayuran daun biasanya sprout dalam waktu 1-3 hari dan berdaun 4 dalam waktu 7-10 hari dari awal sprout. Untuk tanaman sayuran buah biasanya sprout dalam waktu 2-7 hari dan berdaun 4 dalam waktu 2-4 minggu dari awal semai. Dalam menyemai juga sebaiknya porsinya dilebihkan dari ketersediaan tempat peremajaan dan pendewasaan, karena dalam satu bungkus benih tetap ada beberapa benih yang tidak baik hasil tumbuhnya, jika merasa sayang telah semai banyak tapi terpakai sedikit maka sisanya bisa dikonsumsi sebagai salad.

Selamat menyemai

Salam Hidroponik.
Dm_shadaa

Pelatihan hidroponik 2022

Pelatihan di RPTRA MENARA